Slider

ANGGA

Saturday, June 11, 2016

(Image source: Tumblr)

Malam itu tidak seperti biasanya.
Malam kala itu menjerumus semakin dalam.
Tanda tanya itupun semakin ganas dalam jiwa,
Membuat tangga dengan kata - kata yang tak terucap,
Mendorongku ke puncak rasa takutku.

Angga, Kita tahu,
Dengan tangan kosong,
Kau hanya suka merebus kata sampai mendidih,
Lalu meluapkannya sesuka hatimu.
Namun, di sela - sela sejak ini,
Masih tersisa untaian rasa yang kau paksa mati.

Angga,
Semuanya akan selalu bersamamu.
Matahari yang tak pernah kau sapa,
Yang selalu menjadi benih pertengkaran diantara kita,
Tentang siapa diantara kita yang menciptakan bayang - bayang.
Dan tentang kau yang selalu menyombongkan diri,
Sebagai yang paling setia selama ini.
Apakah akhirnya matahari itu berhasil kau taklukan?

Namun bagaimana mungkin,
Kau dapat menandingi nya?
Saat semua yang kamu lakukan
Mematikan dan meredupkan duniaku.
Air mataku dan rasa kesalku masih mengadah kepadamu,
Walau aku ingin sekali bisa merindumu.

Angga,
Sampai huruf terakhir sajakku ini,
Kaulah yang harus bertanggung jawab atas air mataku.


2 comments:

  1. Hello Debora, aku suka puisi kamu yang ini...

    Btw, blog kamu udah aku follow ya, makasih... Salam kenal... :)

    ReplyDelete

CopyRight © | Theme Designed By Hello Manhattan